Kamis, 18 September 2014

[TUGAS HARIAN] 16 September 2014 : Pemahaman tentang Filsafat Ilmu Pengetahuan dan pemikiran secara epistemologis

PEMBAGIAN FILSAFAT
Tahap awal: Filsafat mencakup seluruh ilmu pengetahuan, lalu makin rasional dan sistematis.
Pengetahuan manusia makin luas dan bertambah banyak, dengan bertambah kuasnya pengetahuan manusia, filsafatpun semakin luas dan semakin besar cakupannya. Pada akhirnya, karna filsafat itu terlalu luas, masing masing ilmu yang terbentuk dari filsafat mulai memisahkan diri.
PEMBAGIAN CABANG FILSAFAT SECARA UMUM
  • Epistemologi: Filsafat ilmu pengetahuan
  • Metafisika: Ontologi, Kosmologi, Teologi metafisik, Antropologi
  • Logika: Ilmu berpikir kritis
  • Etika: Filsafat tingkah laku
  • Estetika: Filsafat keindahan
  • Aksiologi: Filsafat Nilai
  • Filsafat Khusus berbagai disiplin ilmu: Fils. Pendidikan, Fils. Agama, Fils. Hukum, Fils. Ekonomi, dll.
EPISTEMOLOGI
  • Etimologis: episteme (pengetahuan), logos (kata, pikiran, percakapan, ilmu)
  • Epistemologi: kata, pikiran, percakapan ttg pengetahuan atau ilmu pengetahuan.
  • Pokok persoalan: sumber, asal mula, sifat dasar, batas, jangkauan, validitas.
JENIS PENGETAHUAN
Pengetahuan terdiri dari dua hal yang harus ada di dalamnya, yaitu, subjek, yakni yang mengetahui seperti manusia yang belajar, dan objek yaitu sesuatu yang ingin kita ketahui. Misalnya, seorang anak belajar tentang matematika. Anak tersebut dapat dikatakan sebagai subjek, sedangkan matematika sebagi objeknya. Pengetahuan bertujuan untuk mencari kebenaran, kebenaran itu sulit diketahui, oleh karena itu, pengetahuan terus berkembang dari duku hingga sekarang, karna kita belum mencapai keseluruhan dari kebenaran.
TIGA JENIS PENGETAHUAN
  • Pengetahuan biasa: pra-ilmiah, pengetahuan yang sumbernya berasal dari indra kita dan hasil pemikiran kita sendiri, oleh karean itu, masih harus diuji, karena masih belum tentu benar.
  • Pengetahuan ilmiah: sumbernya berasal dari penelitian ilmiah, oleh karena itu, kebenarannya bisa dijamin.
  • Pengetahuan filsafati: pengetahuan yang di dasarkan pemikiran yang mendalam, logis, dan sistematis, tidak seperti pengetahuan biasa, yang hanya mengandalkan pemikiran rasional.
SUMBER SUMBER PENGETAHUAN
  • Plato, Descartes, Spinoza, Leibniz: akal budi atau rasio.
  • Bacon, Hobbes, Locke: pengalaman inderawi yaitu, Seluruh pemikiran dan ide yang ada pada  manusia berasal dari pengalaman
  • John Locke: ide manusia itu berasal dari stimulus yang kita lihat secara indrawi, lalu reaksi kita terhadap stimulus tersebut.
  •  Immanuel Kant: ide dan konsep bisa berjalan apabila ada
ADAKAH PENGETAHUAN YANG BENAR DAN PASTI?
  • Menurut penganut skeptisisme: segala sesuatu itu belum pasti benar. Oleh karena itu, socrates mengungkapkan “Apa yang saya ketahui ialah bahwa saya tidak mengetahui apa-apa” mencerminkan bahwa ia adalah orang yang skeptis, seakan akan tidak ada sesuatu ang pasti.
  • Menurut Phyrro (365-275SM), pencipta skeptisisme sistematis pertama: Kita harus senantiasa menyangsikan segala sesuatu, krn tidak ada yang benar-benar dpt diketahui dg pasti.
  • Menurut J. Wilkins (1614-1672) dan J. Glanvill (1636-1680): membedakan pengetahuan tertentu yang sempurna dan pengetahuan tertentu yang sudah pasti. Tak seorg pun manusia dapat meraih pengetahuan sempurna krn kemampuan manusia telah cacat.
  • Menurut David Hume (1711-1776): serang dasar pengetahuan empiris. Tidak ada generalisasi pengalaman yang dpt dibenarkan scr rasional. Generalisasi induktif bukan suatu proses berpikir, tapi sekedar berharap.
  • Menurut Thomas Reid (1710-1796): Menyanggah presuposisi sentral Hume yang mengatakan bahwa kepercayaan kita yang sangat mendasar harus dibenarkan oleh argumen rasional falsafati. Bukti rasional falsafati yang dikehendaki Hume sesungguhnya tidak pantas dan tidak tepat, krn argumen rasional falsafati akan terus menerus memerlukan argumen rasional falsafati tak terbatas.
  • Menurut Albert Camus (1913-1960): Manusia berusaha menakar makna dari sesuatu yang pada hakekatnya tak bermakna. Baginya, tidak ada makna, tidak ada pengetahuan yang benar secara objektif.
KESAHIHAN PENGETAHUAN
Beberapa teori kesahihan pengetahuan:
  • Teori kesahihan koherensi: proposisi diakui benar apabila ia punya hubungan dengan gagasan yang sudah ada sebelumnya .
  • Teori kesahihan korespondensi: pengetahuan dikatakan benar, kalau fakta bisa dikaitkan dengan realitas.
  • Teori kesahihan pragmatis: pengetahuan dikatakan benar apabila bila membantu orang yang punya pengetahuan.
  • Teori kesahihan logikal: memiliki term berbeda, tapi berisi informasi sama dan tak perlu dibuktikan lagi, mis. Siklus adalah lingkaran, lingkaran itu bulat. => Lingkaran bulat tak perlu dibuktikan kebenarannya.
METAFISIKA
  • Etimologis: meta ta physika = sesudah fisika.
  • Beragam arti metafisika:
    • upaya mengkarakterisasi realitas sbg keseluruhan.
    • Usaha menyelidiki apakah hakikat yg berada di balik realitas.
    • pembahasan falsafati yg komprehensif mengenai seluruh realitas atau segala sesuatu yang ada.
    • Pembagian metafisika: Metafisika umum (ontologi) dan metafisika khusus yg meliputi: kosmologi, teologi metafisik, fils. Antropologi.
METAFISIKA UMUM (ONTOLOGI)
  • Membahas segala sesuatu yang ada secara menyeluruh dengan cara memisahkan eksistensi dari penampilann eksistensi itu.
  • Tiga teori ontologis:
    • Idealisme: ada sesungguhnya berada di dunia ide, yg tampak nyata dalam alam indrawi hanyalah bayangan dr yang sesungguhnya.
Tokohnya Berkeley (1685-1753): satu-satunya realitas sesungguhnya ialah aku subjektif spiritual.
I. Kant (1724-1804): objek pengalaman ialah yg ada dalam ruang dan waktu, penampilan dr yang tak punya eksistensi dan independen di luar pemikiran kita. Hegel (1770-1831): segala sesuatu yang ada adalah satu bentuk dr satu pikiran.
  • Materialisme: menolak hal yg tak kelihatan. Ada yang sesungguhnya adalah yg keberadaannya semata-mata material. Realitas ialah alam kebendaan.
Leukippos dan Demokritos (460-370sM): realitas bukan hanya satu tapi banyak unsur yg tak dpt dibagi (atom).
Hobbes (1588-1679): seluruh realitas ialah materi yg tak bergantung pada pikiran kita.
L.A.Feuerbach (1804-1872): material adalah realitas sesungguhnya, manusia bagian dari alam meteri itu.
  • Dualisme: tipe fundamental substansi adalah materi (secara fisis) dan mental (tdk kelihatan scr fisis)
METAFISIKA KHUSUS (TEOLOGI METAFISIK)
  • Kosmologi: Berasal dari kata kosmos yang artinya dunia/ketertiban dan logos yang artinya kata, ilmu. Merupakan percakapan ttg alam/ketertiban paling fundamental dr seluruh realitas. Kosmologi memandang alam adalah hasil dari femonema yang selama ini terjadi.
  • Teologi metafisik: dikenal dengan theodicea yg membahas tentang eksistensi Tuhan, tanpa memikirkan agama
    • Beberapa tokoh Anselmus, Descartes, Thomas Aquinas, I.Kant membuktikan Allah ada dg bukti rasional sbb:
      • argumen ontologis: semua manusia punya ide tentang Allah. Realitas lebih sempurna dari ide. Tuhan pasti ada dan realitas adanya pasti lebih sempurna dari ide manusia tentang Tuhan.
      • Argumen kosmologis: setiap akibat pasti punya sebab. Dunia (kosmos) adalah akibat. Penyebab adanya dunia ialah Tuhan.
      • Argumen teleologis: Segala sesuatu ada tujuannya pengatur tujuan adalah Tuhan.
      • Argumen moral:Manusia bermoral karena dpt membedakan yang baik dan buruk  sumber moralitas adalah Allah.
  • Filsafat Stoa: panteistis – segala sesuatu dijadikan oleh kekuatan ilahi/kekuatan alam. Spinoza melihat segala sesuatu yang ada adalah Allah. Skeptisisme sebaliknya meragukan adanya Allah.
  • David Hume: Tidak ada bukti yang benar yang membuktikan Allah ada.
  • Feuerbach: religi tercipta oleh hakekat manusia sendiri, yakni egoisme.
  • L. Feuerbach: Allah adalah gambaran keinginan manusia. Allah tak lain dari apa yang diinginkan manusia.
  • F. Nietzche: Konsep Allah dalam agama kristen adalah buruk, Ia berkesimpulan Allah itu sudah mati.
  • Sigmund Freund: Tiga fungsi Allah yang utama yaitu sebagai penguasa alam dan sebagai penjaga keteraturan budaya
PENGERTIAN AKSOLOGI
Aksiologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani, yaitu axios (nilai) dan logos (ilmu).
Aksiologi merupakan cabang Filsafat yang mempertanyakan tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri.
Aksiologi adalah kajian tentang kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai, khususnya etika.
Surisumantri menyatakan bahwa aksiologi merupakan teori nilai yang berkaitan dengan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
Pengetahuan manusia itu cukup luas. Pengetahuan itu diharapkan memiliki aspek tepat guna bagi pemiliknya. Aksiologi memberikan jawaban untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan.
Nilai yang dimaksud dalam aksiologi dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai.

FAKTA DAN NILAI
Aksiolog membedakan “yang ada” dengan nilai, membedakan fakta dan nilai.
Untuk menjelaskan lebih jauh apa nilai, perlu dibedakan dengan fakta.
Fakta = sesuatu yang ada secara nyata. Nilai=sesuatu yg berlaku, sesuatu yg memikat/mengimbau kita.
Nilai berperanan dalam suasana apresiasi, sementara fakta ditemui dalam konteks deskripsi. Fakta dapat dilukiskan secara objektif. Mis. letusan gunung Merapi. Letusan bisa  punya nilai bagi seorang, tdk bagi yg lain.
Macam2 nilai: 1) nilai ekonomis: bdk hukum ekonomi, 2) nilai estetis: saat menikmati lukisan, atau lagu yang indah.

NILAI SEBAGAI KUALITAS YG TIDAK RILL?
Nilai butuh pengemban utk berada. Nilai tampak pd kita seolah2 hanya merupakan kualitas dari pengemban nilai: keindahan dr lukisan, kegunaan dr sebuah peralatan.
Jadi, nilai itu bukan merupakan benda atau unsur dari benda, melainkan sifat, kualitas yang dimiliki objek tertentu yg dikatakan ‘baik’.

PEMBAGIAN AKSIOLOGI
Aksiologi dibagi dalam dua bagian, yaitu: 1) Etika (Filsafat Etika),dan 2) Estetika (Filsafat keindahan).
Etika mengkaji tentang prinsip-prinsip dan konsep-konsep yang mendasari penilaian terhadap perilaku manusia.
Contohnya tindakan yang membedakan benar salah menurut moral, putusan moral bertindak sewenang-wenang atau bertindak sekehendak hati.
Etika digunakan untuk membedakan hal-hal, perbuatan-perbuatan, atau manusia-manusia lainnya.
Etika sebagai filsafat yang memuat pendapat, norma, dan istilah moral.
Etika sebagai aturan sopan santun dalam pergaulan.
Estetika mengkaji tentang prinsip-prinsip yang mendasari penilaian atas berbagai bentuk seni, yang mengkaji apa tujuan seni, apa peranan rasa dalam pertimbangan estetika, bagaimana kita bisa menganal karya besar seni.
Estetika berkenaan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki manusia terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya.

OBJEKTIVITAS DAN SUBJEKTIFITAS NILAI
Nilai itu kadang-kadang bersifat obyektif, namun kadang-kadang bersifat subyektif.
Dikatakan obyektif apabila nilai-nilai tidak tergantung pada subyek atau kesadaran yang menilai.
Tolak ukur suatu gagasan berada pada obyeknya bukan pada subyek yang melakukan penilaian.
Kebenaran tidak tergantung pada kebenaran pada pendapat individu melainkan pada obyektivitas fakta.
Nilai menjadi subyektif apabila subyek berperan dalam memberikan penilaian, kesadaran manusia menjadi tolak ukurnya.
Dengan demikian, nilai subyektif selalu memerhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.

PERANAN NILAI BAGI KITA
  • Nilai merupakan objek sejati bagi tindakan manusia.
  • Nilai mengarahkan manusia dan memberi daya tarik bagi manusia dalam membentuk dirinya melalui tindakan-tindakannya.
  • Menata hubungan sosial dalam masyarakat.
  • Memperkuat identitas kita sebagai manusia

4 komentar: